Tanggal 28 april 2009, saya dan Nunu (camera person) terbang dari bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 8 a.m karena jarang ada penerbangan pagi ke Mataram, Lombok. Tiba di bandara Selaparang, Mataram pukul 10 a.m kami dijemput Mail, driver Mataram yang sudah saya kenal dari pertemuan sebelumnya saat saya, Oji (camera person) dan dia mengunjungi pulau Moyo di kota Sumbawa Besar beberapa waktu lalu.
Setelah mampir makan siang di warung makan depan Mall Mataram dan membeli bekal perjalanan (snack dan air mineral), perjalanan panjang kami pun dimulai. Dari Mataram, kami harus menempuh dua jam perjalanan ke pelabuhan Khayangan di Lombok Timur. Tidak banyak yang bisa di nikmati selama perjalanan menuju pelabuhan selain perumahan di pinggir jalan, pasar setempat, sawah padi dan kangkung dan harus mengejar jadwal penyebrangan ferry secepatnya. Syukurlah setibanya di pelabuhan Khayangan, kami hanya menunggu satu jam hingga ferry berikutnya datang sambil istirahat. Dan yang terbaiknya, kapal yang kami tumpangi kelak cukup nyaman dibanding kapal ferry yang pernah saya tumpangi dulu.
Dua jam penyebrangan di dalam ferry cukup untuk istirahat dan merekam beberapa gambar. Saat itu pukul 5 p.m ketika ferry merapat di pelabuhan Sumbawa. Meskipun jarak dari satu kota ke kota lain berjauhan, perjalanan tidak terlalu membosankan karena banyak pemandangan indah. Sepanjang perjalanan ke kota Sumbawa Besar, di kiri jalan bukit-bukit kecil tandus berlarian menjauhi kami. Di kanan, banyak pulau-pulau yang seolah mengambang di air laut yang tenang.
Sayang waktu itu sudah sore hingga hanya punya waktu sebentar untuk menikmati pemandangan itu. Sisanya, kami menembus gelap menuju kota Sumbawa Besar. Tidak banyak rumah seperti di sepanjangan jalur pantura. Untungnya jalannya mulus karena baru di aspal. Mail pun menekan pedal gas lebih dalam hingga tiba di Sumbawa Besar sekitar pukul 8 p.m.
Tidak mungkin untuk melanjutkan enam jam perjalanan lagi. Selain kami, terutama Mail sudah letih, perjalanan kesana gelap dan banyak jalan yang buruk bahkan tak beraspal. Akhirnya kami mencari penginapan dan terlelap tidur hingga besok pagi.
Kota kecil yang damai
Saat tugas sebelumnya, saya pernah melewati seperempat jalan ini menuju Dompu saat tengah malam. Saya tidak menyangka, kalau melewatinya di pagi hari, pemandangannya jauh lebih indah dari yang dibayangkan. Rasanya seperti sedang merayakan pesta ulang tahun ke 17. Kado-kado terbaik terus datang dan datang lagi. Di kanan jalan, tidak banyak perumahan penduduk dan terbentang luas kebun dan sawah. Di kiri jalan, langit biru dan awan putih bersih terpantul dari teluk Saleh yang begitu indah. Makin indah dilihat karena tidak ada pemukiman penduduk yang menghalangi kami menikmatinya dari jalanan. Kilometer demi kilometer berlalu dan pantai itu tidak pernah hilang hingga kami sampai di Dompu.
Kabupaten Dompu adalah kota kecil yang terletak di jalur perlintasan Sumbawa Besar-Bima. Luasnya sekitar 2.321,55 km². Yang terdiri dari hutan, bukit dan pantai. Mayoritas penduduk Dompu beragama Islam taat dan sangat ramah, harap maklum kalau anda susah menemukan pub disini. Penduduk disini tidak mengenal macet dan kehidupannya begitu tenang, berjalan lambat dan cepat kembali ke kasur sebelum pukul Sembilan malam.
Kami menginap di sebuah hotel di tengah kota Dompu (lagi-lagi saya lupa nama hotelnya). Sebenarnya bukan sebuah hotel, tapi lebih mirip wisma tingkat tiga dengan sarapan tiap pagi. Pemiliknya seorang haji yang selalu menyapa ramah setiap pagi.
Setelah check in dan menyimpan semua barang kami di kamar. Saya, Nunu dan Mail keliling kota mencari warung makan dan menemui fixer kami di Dompu. Namanya Mus, dia seorang wartawan di koran setempat. Setelah ngobrol panjang dan beberapa gelas kopi hitam dan rokok kretek, kami kembali ke hotel dan tidur hingga pagi.
Pantai Lakey
Kami bangun pukul 5 pagi. Nunu (camera person) ingin merekam gambar matahari yang terbit di balik bukit. Jadi kami berangkat menuju tempat yang cukup tinggi disini. Dekat menara pemancar televisi. Dari tempat tinggi ini, kota Dompu terlihat malu-malu tertutupi pepohonan besar yang tumbuh disana-sini. Begitu asri.
Dari bukit, kami menuju pasar tradisional di Terminal Ginte, terminal bus antar kota. Jika anda ingin mengenal lebih jauh penduduk setempat dan kebiasaan mereka, datanglah ke pasar tradisional. Anda akan bertemu banyak penduduk lokal yang saling tawar menawar kebutuhan pokok. Ada juga yang menjual jajanan tradisional yang tidak ada di tempat lain. Cara yang lebih mudah untuk mengenal penduduk lokal tanpa harus berkeliling kota, ya kan?
Setelah merasa cukup merekam kegiatan penduduk lokal dan aktivitas terminal, kami langsung menuju Rumah Sakit Umum Dompu. Tunggu dulu, tidak ada dari kami yang sakit, kami kesana karena ada terminal bayangan menuju kecamatan Hu’u. Tempat dimana ombak-ombak keren yang menggoda para peselancar dunia tiap hari di pantai Lakey.
Tidak banyak bus yang pergi kesana. Jadi ketika ada satu bus yang datang, segeralah naik meski sudah penuh dengan manusia, ayam dan bahkan kambing! Sial, saya tidak kebagian tempat di dalam bus. Terpaksa saya dan Nunu, dan empat pria lainnya harus naik ke atap bus dan duduk disana sampai kecamatan Hu’u. Benar-benar gila! Selain harus terus memicingkan mata karena angin kencang dari bus yang tak mau berjalan pelan, kami harus menunduk sesekali untuk menghindari dahan pohon. Hahaha what a adventure! Bang Mail yang mengikuti kami dari mobil hanya tertawa melihat kami yang menderita diatas bus.
Akhirnya kami sampai di pantai Lakey pukul 1 siang. Dengan kulit wajah bertambah tebal dua centimeter oleh debu dan tangan yang kram karena terus berpegangan erat selama di atas atap bus satu jam lamanya. Saya membayangkan ramainya seperti pantai Kuta di Bali atau setidaknya pantai Sengigi di Lombok. Tapi pantai Lakey seperti pantai pengasingan. Sepi sekali. Setelah melewati pemukiman penduduk setempat, hanya ada beberapa cottage kecil yang halaman depannya tumbuh rumput gajah setinggi betis. Tidak terawat, entah kenapa.
Bang Mail melambatkan laju mobil, saya dan Nunu melihat dari balik kaca mobil mencari kehidupan. Di ujung jalan batu yang mengarah ke pantai, akhirnya kami bertemu dua turis asing. Mereka dari Australia dan membawa papan surfing. Dia bilang ombak disini lebih keren dari pantai di Bali dan Lombok, saya hanya mengangkat bahu. Selain tidak bisa surfing, saya belum pernah kedua tempat itu sebelumnya. Apa yang harus saya komentari? Hahaha
Pantai Lakey tidak kalah dari pantai Kuta atau pantai Sengigi. Sayang pantai ini tidak terawat dan kurang diperhatikan oleh dinas pariwisata setempat. Ombaknya pun ternyata cukup terkenal. Di internet, saya menemukan banyak pujian tentang ombak di pantai Lakey dari banyak blog. Dan empat yang paling terkenal adalah Lakey Peak, Cobble Stones, Lakey Pipe dan Periscop. Banyak surfer dari Australia, Amerika dan Negara lain yang datang kesini untuk surfing dengan tenang.
Kenyang dengan spaghetti buatan lokal dari warung wisma setempat, Nunu menyusuri pantai untuk mencari lokasi yang bagus dan mulai merekam. Saya mencari pelatih surfing setempat. Setelah ngobrol sebentar, pelatih surfing mau mengajari saya tanpa dipungut biaya. Saya hanya perlu menyewa sebuah papan surfing seharga Rp. 50.000,- dan meminjam celana pantai untuk latihan nanti. Ibu penjaga warung sempat menawarkan booty tapi saya menolak hingga akhirnya menyesal sampai besok pagi.
Sudah pukul empat sore, ombak tidak terlalu besar cukup bagus untuk latihan. Bodohnya saya tidak menyiapkan apapun untuk latihan. Hanya menggunakan celana pantai dan papan yang telah digosok lilin, saya, pelatih dan beberapa anak-anak kecil mulai berlarian ke tengah laut. Sayapun tahu kenapa ibu penjaga warung menawarkan booty, ternyata pantainya tidak semulus Kuta atau Sengigi, banyak terumbu karang kecil yang tajam. Telapak kaki saya penuh luka-luka kecil.
Satonda
Masih capek karena digulung ombak pantai lakey kemarin sore, hari ini pagi-pagi sekali, kami check out dari hotel mengarah ke tempat tujuan akhir kami, danau Satonda. Sebenarnya, Satonda adalah sebuah pulau yang terletak di wilayah administrasi Dompu dan Bima. Terakhir kami kesana, Satonda masuk wilayah administrasi kabupaten Dompu.
Dari hotel, kami menuju pertigaan Cabang Banggo, daerah pertigaan yang ramai di kecamatan manggalewa. Daerah ini ada di tengah jalur Sumbawa besar-Dompu. Dari arah Dompu, kami belok kanan di pertigaan itu dan mengarah terus ke desa Labuan Kenanga, kabupaten Bima melewati padang savanna yang luas, gersang dan jarang ada pemukiman penduduk.
Seperti kata bang Mail, matahari di pulau Sumbawa ada dua. Panasnya luar biasa. Sepanjang jalan melewati rumput gajah setinggi setengah meter di padang savanna, debu dari jalan tak beraspal makin menyiksa kami. Saya lupa berapa jam perjalanan kami hingga sampai Labuan Kenanga, yang kami pikirkan saat itu semoga mobil yang kami gunakan tidak kepanasan dan pecah ban. Dan juga memikirkan perut kami yang mulai berontak sejak tadi.
Kira-kira dua jam perjalanan dari pertigaan Cabang Banggo, kami memasuki sebuah desa yang tenang dan mampir di warung makan kecil yang sepi. Ketika kami datang, dua wanita pemilik warung seperti kelabakan melihat kami. Hahhahaa sepertinya jarang ada yang datang ke warung itu untuk sekedar mampir membeli minum.
Kami tidak memikirkan seperti apa rasa makanannya nanti, yang penting perut terisi penuh dan tenggorokan tidak lagi kering seperti savana yang kami lewati sebelumnya. Warung itu menjual Babalung. Kata bang Mail, babalung adalah makanan lokal Lombok (bukan Sumbawa) yang menggunakan daging sapi dan dimasak menjadi sop. Seperti sop iga di Jawa. Di tengah teriknya matahari kembar kami pun mulai menyantap sop panas yang langsung buat keringat dari rambut hingga kaki. Entah karena sangat lapar atau memang enak, sop Babalung ini benar-benar menggoda. Tidak peduli diluar udara sangat panas, lebih-lebih tidak peduli lagi harus menyantap sop babalung yang baru saja dipanaskan. Saya sampai habis dua porsi, entah dengan Nunu dan bang Mail.
Kenyang dan keringatan, kami meneruskan perjalanan ke desa Labuan Kenanga. Sudah pukul tiga sore dan masih belum ada tanda-tanda kami segera sampai kesana. Bersyukurlah hari ini tidak hujan, karena jalan yang kami lalui berikutnya makin rusak saja.
Sekitar pukul setengah lima sore, akhirnya kami memasuki sebuah desa. Setelah bertanya pada penduduk setempat, kami pun tiba di jalan menanjak menuju desa Labuan Kenanga. Antara senang dan khawatir, kami semua tertawa melihat perjuangan bang Mail memaksakan mobil malang itu menanjak melewati jalan yang rusak parah. Lubang di jalannya ada yang sampai dua puluh centimeter, cukup untuk mengandaskan mobil dan membuat lecet tangki bahan bakar. Tepat pukul lima sore, akhirnya kami memasuki desa Labuan Kenanga.
Desa Labuan Kenanga masuk wilayah administrasi kabupaten Bima yang berbatasan langsung dengan desa Nangamiro yang masuk wilayah administrasi kabupaten Dompu. Topografinya mirip daerah pesisir lain di Indonesia yang dekat dengan pegunungan. Di jalan besarnya kami bisa melihat dengan sangat jelas gunung Tambora berdiri tegak sejelas kami melihat pulau Satonda.
Luas desa Labuan Kenanga sekitar 27 hektar, namun luas wilayah yang bisa di huni hanya lima hektar saja, itupun hanya di huni 400 kepala keluarga. Letaknya yang cukup jauh dan banyaknya jalan yang rusak menjadi salah satu faktor sepinya desa Labuan Kenanga. Meskipun desa ini terletak di pinggir pantai, rata-rata profesi penduduk setempat adalah petani dan peternak, seperti umumnya profesi masyarakat suku Bima. Karena tanahnya yang kurang cocok untuk bertani padi, mereka biasa menanam kopi dan jambu mete.
Ramah tamah sepertinya mendarah daging di seluruh masyarakat Indonesia. Saya, Nunu dan Mail disambut hangat di rumah kepala desa setempat dan disediakan tempat untuk menginap karena hari pun sudah gelap. Rumahnya sungguh asri. Di halamannya yang luas, berdiri rumah adat Bima berupa rumah panggung dari kayu sepanjang dua puluh meter dengan pintu langsung menghadap pantai. Disebelahnya berdiri rumah modern dari batu yang kini di huni beliau beserta keluarganya. Di rumahnya terdapat televisi 21”, dvd player dan dua speaker aktif setinggi tiga puluh sentimeter meskipun listrik menyala mulai pukul enam sore.
Setelah magrib, kami dan keluarga kepala desa berkumpul di pendopo kecil depan rumah dan memulai percakapan. Saya bercerita tentang perjalanan kami ke Labuan Kenanga, dan beliau bercerita tentang pulau Satonda dan gunung Tambora. Selagi kami bercerita, para ibu sedang memanggang (kalau bisa dibilang begitu) Timbu. Makanan lokal masyarakat Dompu dan Bima. makanan berbahan dasar nasi ketan yang dimasukkan ke dalam batang bambu dan di panggang. Biasanya kalau makan tempe mendoan atau cemilan lain di pulau Jawa, pasti ada sambal. Ketika makan Timbu juga ada. Tapi bukannya sambal, kami mencolek potongan kecil Timbu dengan ketan hitam. Rasanya aneh, kecut dan kenyal. Seperti memakan steak dengan selai strawberi. Dan yang terburuk, saya diare selama seminggu berikutnya.
***
Pak Umbu, salah satu dari sedikit nelayan yang tinggal di desa Labuan Kenanga sudah siap sejak pukul lima dini hari. Sedikit cerita tentang pak Umbu. Sebenarnya beliau bukan penduduk asli suku Bima, beliau perantau dari Flores yang menikah dengan wanita setempat. Itulah sebabnya beliau menjadi nelayan. Ketika perahu kami mulai meninggalkan bibir pantai Labuan kenanga, desanya masih sepi dan terlelap. Begitu tenang, begitu damai. Sedikit ke tengah laut, harta sebenarnya perairan Indonesia mulai membentang luas. Air laut yang jernih bagai kaca akuarium yang memamerkan kebun terumbu karang yang membentang luas. Saya tidak pernah melihat kebun terumbu karang begitu terawat seperti disini. Transisi pasir putih di dasar laut yang mulai terlihat dari balik kerikil hitam layaknya sinar matahari yang terbit dari gelapnya malam. Sungguh mengagumkan.
Tiba di dermaga kecil di Pulau Satonda, kami bertemu pak Toto. Petugas yang menjaga pulau setempat untuk melayani turis yang memang sering datang kesini karena letak pulau Satonda diantara jalur wisata Bali-Flores. Sebelum melihat danau Satonda, pak Umbu dan pak Toto mengajak saya berkeliling pulau yang luasnya 4,8 km persegi ini. Satwa yang paling banyak disini adalah kalong. Sejenis kelelawar pemakan buah berukuran besar. Begitu banyaknya hingga menutupi sepertiga pepohonan di pulau ini. Selain kelelawar, ada juga ular piton dan kera. Namun hanya kelelawar saja yang saya lihat pagi itu.
Menurut pak Umbu yang sudah tinggal di Labuan Kenanga sejak tahun 75, sebelumnya beliau dan 4 kepala keluarga lain pernah tinggal di pulau Satonda sebelum dipindahkan oleh pemerintah setempat ke Labuan Kenanga.
Setelah mengelilingi melihat-lihat disekitar pulau, kami mulai menapaki jalan kecil ke atas bukit. Cukup terjal meski tak terlalu tinggi. Sepuluh menit penuh peluh dan harus mengambil nafas panjang, akhirnya terbayar. Yang kini terbentang di depan mata saya adalah Danau Satonda. Danau indah yang tenang seluas 0,8 km persegi membentuk angka delapan. Dari atas sini warnanya biru kehijauan, karena di permukaannya penuh lumut.
Menurut hasil penelitian ahli Geologi, pulau Satonda dulunya memiliki gunung berapi. Sekitar empat ribu tahun silam gunung tersebut meletus dan membentuk kaldera. Hujan terus-menerus mengisi kaldera tersebut hingga menjadi danau air tawar. Kini air danau Satonda menjadi asin diperkirakan karena letusan gunung Tambora pada April 1815 silam. Ledakan dasyat yang awan vulkaniknya hingga mencapai sumatera menciptakan tsunami yang ombaknya menyapu pulau Satonda. Air laut dari tsunami yang terjebak itulah yang kini menyebabkan airnya menjadi asin.
Di akhir perjalanan, saya, nunu dan Mail istirahat sejenak di pendopo yang ada di bibir danau Satonda. Mengagumi tenangnya air danau yang penuh lumut di permukaannya. Ada pohon penuh gantungan batu. Menurut pak Toto, wisatawan yang datang ke pulau ini biasa mengikat batu di dahannya sembari berdoa agar bisa kembali kesini.
Saya pun ikut mengikat sebuah batu di dahan yang tersisa. Harapan saya bukan hanya ingin kembali ke pulau ini. Lebih dari itu saya ingin ketika kembali ke pulau Satonda, terbentang jalan aspal mulus dari cabang Banggo ke desa Labuan Kenanga dan lebih banyak kendaraan umum yang datang kesini.
Dicopas dari : www.dannioo.com/2011/02/05/dompu-lakey-satonda/
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berikan Saran dan Kritik yang membangun